Jumat, 23 September 2011

JUST STORY


THE LAST GUERDON


sore itu hari sangat mendung sekali. awan hitam bertebaran di langit menampakkan keperkasaannya yang menguasai langit sore pada saat itu. intan seorang gadis berumur 18 tahun sedang duduk di depan teras rumah nya. Menundukkan kepala nya kebawah serta memeluk kedua kakinya yang pada saat itu ditekukkannya. Intan teringat akan kejadian 2 tahun  lalu yang tak akan pernah dilupakannya.

sore itu danis sang pacar yang sangat dicintai nya datang menjemput intan di rumah nya . mereka telah berpacaran selama 3 tahun sejak kelas 2 SMA. Intan yang telah menunggu kehadiran sang pacar terlihat senyum ketika suara motor Danis yang sudah sangat di kenal Intan memasuki pekarangan rumah Intan yang teduh akan pepohonan yang rindang. Intan segera merapikan rambut dan pakaiannya. Intan berlari kedepan untuk menyambut sang pacar. Danis tersenyum ketika melihat Intan yang sangat cantik mengenakan celana jins panjang yang dipadukan dengan dress mini berwarna merah bermotif bunga mawar merah. Danis turun dari motor nya seraya membuka helm dan memasuki teras rumah Intan. Ia mencium kening Intan. Intan tersenyum melihat tingkah laku sang pacar yang memang selama ini selalu begitu kalau datang menemui Intan. Sebelum pergi, Danis meminta izin kepada mama Intan akan mengajak Intan pergi. Mama Intan sudah mengenal baik siapa Danis. Anak yang ramah, baik, dan sopan.

Danis dan Intan meninggalkan pekarangan rumah Intan menuju jalan raya yang akan mereka lewati. Intan memeluk sang pacar dengan erat. Kali ini tujuan mereka adalah taman. Tempat dimana Danis menembak Intan dulu. Tempat yang sangat nyaman bagi mereka berdua. Sesampainya di taman, mereka langsung menuju tempat yang biasanya mereka tempati. Dibawah pohon yang rindang dan teduh yang mengarah ke tanaman bunga mawar merah. Bunga kesukaan Intan.

Mereka kemudian duduk dibawah pohon tersebut. Bercakap tentang kuliah dan masa depan. Intan tahu bahwa Danis akan melanjutkan kuliahnya ke Amerika karena itu permintaan ayahnya karna Danis anak pertama dari 3 bersaudara dan harus meneruskan perusahaan ayahnya. Intan tahu ia harus menerima kenyataan itu dan harus menunggu Danis selama kurang lebih 5 tahun berada disana. Namun Intan tak mempermasalahkan hal tersebut karena ia tahu Danis sangata mencintainya dan tak akan berpaling darinya.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Danis sudah berjanji pada mama Intan akan mengantarkan Intan pulang sebelum magrib.

Danis menggas motornya melewati jalanan taman yang di penuhi penjual kaki lima dan para pengunjungnya. Ketika itu langit mendung sekali. Awan yang tadinya berubah cerah sekarang berwarna hitam. Butir-butir air pun mulai berjatuhan. Semakin lama semakin deras membasahi baju mereka dan jalanan yang sedang mereka lewati. Danis tidak memberhentikan motornya karna ia mengejar waktu yang sudah semakin sore. Intan sudah berulang kali meminta Danis untuk berhenti tetapi Danis tetap kekeh. Intan pun mengeratkan pelukannya.

Ketika diperempatan menuju rumah Intan, ada truk yang berlawanan arah dengan mereka. Truk tersebut tidak melihat motor yang dikendarai Danis karena hujan yang sangat deras. Kecelakaan pun terjadi. Truk tersebut menabrak motor yang dikendarai Danis. Intan jatuh terguling di aspal yang basah oleh hujan. Intan segera berdiri dan mencari dimana Danis. Intan menangis histeris ketika melihat danis tergeletak di aspal dan motornya hancur tak berbentuk. Danis mengeluarkan banyak darah di kepalanya. Intan berlari menghapiri Danis yang tak berdaya sambil berteriak meminta tolong walaupun ia tahu tak seorang pun yang dapat mendengar suaranya karena bunyi hujan yang sangat deras. Intan memanggil-manggil nama Danis. Danis membuka mata dengan sangat perlahan. Dipangkuan Intan, Danis membelai wajah Intan dengan tangan yang penuh dengan bercak darah. Intan kuasa menahan tangisannya. Danis tersenyum melihat Intan yang menangis, memasukkan tangannya kedalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah boneka teddy bear mungil kesukaan Intan.

“Simpan baik-baik boneka ini ya sayang. Aku sayang kamu sampai akhir hayatku J.”

Danis mengecup pipi Intan dan menutupkan kembali matanya yang tak akan pernah dibukanya lagi.

Intan sudah mengeluarkan butir-butir air dari pelupuk matanya. Ia tidak dapat menahan air matanya yang semakin deras bersamaan dengan hujan yang deras. Intan semakin menundukkan kepalanya dan memeluk erat boneka teddy bear pemberian terakhir sebelum kepergian Danis. Intan enggan untuk mengingat kejadian itu tetapi pikirannya semakin memaksa untuk mengingat kejadian tersebut.





Oleh: Chila Angela Venia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar